Anti KKN Hanya Slogan
Ungkapan atau slogan anti KKN mungkin sering kita
saksikan, baik dalam bentuk poster, spanduk,maupun dalam bentuk baleho-baleho besar yang
terpampang di jalanan dan di berbagai instansi
pemerintahan. Kata-kata indah dan menarik yang
ditampilkan, ditambah lagi dengan gambar-gambar
unik yang meyakinkan, semakin membuat kesan
bahwa instansi yang memasang slogan-slogan tak
akan terlibat dalam kasus yang demikian.
Polri, Kejaksaan Tinggi, DPR RI, Departemen Agama,
MK, hingga berbagai partai politik adalah agen-agen
yang tak pernah lepas andil dalam urusan yang satu
ini. Semua saling beradu dalam membuat slogan-
slogan anti korupsi, kolusi, dan nepotisme yang
bagus dan menarik perhatian. Namun yang menjadi
pertanyaan adalah apa efek slogan-slogan itu bagi
bangsa kita yang korupnya telah membudaya ini?
Ataukah kata-kata anti korupsi ini hanya menjadi
slogan yang tak berarti?!
Memang, Harus kita akui bahwa keberadaan
slogan-slogan anti korupsi ini sedikit membawa
pengaruh bagi kondisi sebagian masyarakat kita,
terutama dikalangan pejabat dan aparat negara.
Mereka pasti punya rasa malu ketika lingkungan
mereka menggalakan anti korupsi tetapi mereka
masih melakukannya.
Di sisi lain, ternyata banyak instansi pemerintahan,
partai politik, dll. yang hanya menjadikan slogan
anti korupsi sebagai pencitraan mereka kepada
masyarakat biasa. Hal ini menunjukkan bahwa kata-
kata anti korupsi hanya sebatas slogan yang tak
banyak berarti. Anti korupsi belum benar-benar
tertanam dalam hati.
Contoh nyatanya adalah ketika pemilihan umum
(pemilu) presiden dan wakil presiden. Salah satu
partai berkoar-koar akan menghentikan korupsi di
negeri ini, tetapi dalam praktiknya pun mereka
menggunakan uang untuk menyuap masyarakat
Indonesia agar memilih pasangan yang diusung
partai tersebut. Kemudian yang lebih hebat lagi,
kader-kader partai yang dahulu berkoar-koar akan
menyetop korupsi, sekarang justru banyak
tersandung kasus korupsi.
13
Contoh lainnya terjadi di kantor polres Serang
Banten, tepatnya di tempat pembuatan SIM. Disana
terdapat spanduk besar yang bertuliskan “STOP
KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME (KKN)”
“JANGAN PENGARUHI KAMI UNTUK MELAKUKAN
KKN.” Spanduk ini mengandung makna yang sangat
luar biasa yang menyiratkan bahwa polisi di sana
tidak mau disuap. Tetapi relitanya berkata lain,
belum juga tes, dua oknum polisi menyarankan
kepada para peserta uji SIM untuk melakukan yang
mereka sebut dengan penyogokan. Mereka meminta
250 ribu rupiah untuk sebuah SIM padahal uang
yang seharusnya dibayarkan ke pemerintah hanya
100 ribu rupiah saja. Dengan kata lain mereka
mengambil keuntungan sebanyak 150% harga. Hal
yang paling membuat masyarakat serang banten
tercengang adalah tes praktik uji SIM dilakukan
dengan mengitari sebanyak dua kali track sempit
berbentuk angka 8 yang di sampingnya dipasang
pembatas dan mereka harus melakukannya dengan
tanpa menyentuh tiang pembatas tadi. Tes uji sim
tersebut seperti telah di setting agar para peserta
gagal dalam menjalaninya. Bayangkan saja, untuk
apa tes seperti itu, emangnya dijalanan akan
ditemui medan yang seperti demikian, kan tidak!
Satu lagi fakta yang sungguh miris ditengah bangsa
yang beragama seperti Indonesia, yaitu tingkat
Korupsi tertinggi ada di kementrian agama Republik
Indonesia. Lagi-lagi itulah akibat belum
tertanamnya nilai-nilai ketuhanan dalam
masyarakat Indonesia.
Masih banyak lagi kasus-kasus korupsi yang terjadi
di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa memang
ungkapan-ungkapan penolakan terhadap KKN
terutama korupsi kurang tertanam di hati penduduk
negeri ini. Maka tak mengherankan jika korupsi di
bangsa ini kian banyak terjadi sampai-sampai KPK
pun sekarang membatasi penyelidikannya hanya
pada kasus-kasus korupsi diatas 5 milyar rupiah,
hal ini sama artinya bahwa korupsi yang kurang dari
5 milyar dilegalkan atau tidak ada penindakan oleh
KPK, badan yang menangani kasus korupsi.
Namun, kita sebagai masyarakat Indonesia harus
yakin bahwa kondisi negara ini akan berubah
menjadi lebih baik, tidak ada yang tidak mungkin
jika kita semua bersatu dan menanamkan anti
korupsi dalam hati bukan hanya dalam kata-kata
dan ungkapan."lansir
Robiansyah.SH
(Ketum IGW)
.jpg)


Komentar
Posting Komentar